Sering
saya melihat laki laki ini ketika pulang dari kampus II IAIN Ponorogo dikawasan
eks Pasar Legi Songgolangit, berbeda dengan para pembecak lainnya yang masih
berumur kisaran 50 tahun sampai 60 tahun
saja.
Namanya
adalah mbah Juki usia 86 tahun. Lahir di dusun Dasun Desa Bangunrejo Kecamatan Sukorejo
Kabupaten Ponorogo. Alamat sekarang tinggal di jalan Wilis menempati rumah
peninggalan mertuanya bersama dengan anaknya. Mbah Juki berprofesi menjadi tukang becak mulai
tahun 1951 yaitu sejak awal munculnya mode transportasi becak di Ponorogo.
Pangkalan becak mbah Juki berada di pojokan jalan Wilis lingkup eks- Pasar Legi
Songgolangit bersama dengan empat orang sesama profesi tukang becak. Berangkat
narik becak mulai dari jam 8 hingga nanti jam 4 sore sudah menjadi rutinitas
sehari-hari mbah Juki ini. “saya ini berangkat mbecak jam 8 mas terus
nanti pulangnya jam 4 sore”.
Meskipun
harus bekerja selama-katakanlah-delapan jam perhari, tak jarang juga mbah Juki
harus pulang dengan tangan kosong karena tidak ada yang menggunakan jasanya sebagai tukang
becak. “Pendapatan pun tidak mesti mas, kadang malah tidak dapat apa-apa karena
tidak ada yang mbecak, meski tidak ada yang mbecak pun jam 4 saya
harus pulang”. Melihat hal itu mbah Juki juga mempersiapkan bekal uang dua ribu
–lima ribu rupiah untuk beli minuman kalau haus.
“Kalau
tidak ada yang order becak, paling dari rumah harus bawa uang paling tidak 2000
atau 5000, ibarat mobil buat uang bensin kalau kehabisan bensin”. Terlihat
tawanya yang sederhana di tengah panasnya cuaca di sekitaran eks Pasar Legi
Songgolangit kala itu. Profesi mbecak ini sudah digeluti beliau dari tahun 1951
terhitung sudah 68 tahun. Ketika ditannya kenapa masih bertahan di profesi ini?
“Kalau
ada pekerjaan yang lain saya pilih pekerjaan yang lain kok mas, la mau gimana
lagi mbecak kadang dapat penumpang kadang malah tidak ada yang mbecak.
Pas tidak dapat penumpang rasanya mbrebes mili mas dihati”. Banyak orang
yang kadang memberi wadanan atau cacian dengan istilah “Ndok ketan
yang artinya ndoglog madep ngetan (duduk hadap ke timur). “tapi ya mau
gimana lagi mas, wong mbecak itu tidak bisa ditebak, hari ini rame
penumpang atau malah sepi kan gak bisa ditebak. Ya saya terima dengan lapang
dada itung-itung mensyukuri nikmat Allah saja.”
Dulu
saat Pasar Legi Songgolangit masih disini, belum di hancurkan direlokasi,
banyak yang menggunakan transportasi
becak. Tapi sekarang pasarnya pindah berarti yang mbecak juga
berkurang. “Kenapa mbah Juki tidak mengikuti penumpang pindah ke Pasar
Songgolangit (Jara’an)? “tidak mas, dilihat
jaraknya juga jauh, misalkan dari peken (pasar) mau ke Tambakbayan (jl.
Trunojoyo) saja ongkosnya sama dengan disini, dari Jara’an ke jl. Trunojoyo
ongkosnya sepuluh ribu terus jaraknya lebih jauh malahan, orang narik becak itu
juga pileh-pileh tebu (memilah dan memilih) mas. Kalau dari sini jl.
Wilis mau ke Jenes saja, ongkosnya sepuluh ribu sampai lima belas ribu, kalau disana
(pasar Legi Jara’an) tetap sama sepuluh ribu mas.
Bila
mendapat penumpang dengan barang bawaan yang banyak mbah Juki juga bilang
bahwasannya untuk memindahkan barang ke atas becaknya dirinya tidak sanggup. Silakan
cari tanaga angkat-angkat. “saya ya jujur saja mas, kalau saya kuat ya bilang
kuat seumpama tidak kuat ya suruh cari becak
yang lain, kan teman-teman becak banyak. Kerja mbecak sperti ini rem-nya
ya diri sendiri mas.” Jelas mbah Juki.
Demi
mencukupi kebutuhan sehari-hari, mbah Juki harus pintar-pintar mengatur
pengeluaran Pendapatan mbah Juki dari hasil
mbecak kisaran sepuluh ribu sampai tak jarang jika penumpang ramai bisa
sampai empat puluh ribu rupiah per hari lalu apakah sepuluh ribu cukup untuk mencukupi
kebutuhan sehari hari? “Cukup ndak cukup mas, sepuluh ribu mau dibawa kemana.
Yang saya pikirkan malah orang yang punya anak banyak dan punya tanggungan
sekolah itu mas, kadang juga belum sampai dirumah sudah kepikiran cucu datang
lalu minta uang saku mau dikasih apa kalo gak megang uang”.
Pengalaman
mbah Juki paling jauh narik becak ke arah utara sampai Madiun, ke selatan
sampai Pasar Slahung, mau ke arah Pacitan, dan arah barat sampai di Pasar
Badegan. Diusianya yang sudah sepuh 86 tahun masih menggauyuh pedal
becak nya, sebenarnya pihak keluarga pun telah membujuk untuk berhenti dari
profesinya ini dengan alasan usia beliau
yang sudah tua namun mbah Juki tetap berkeinginan narik becak. “yang ngeyel
narik itu saya sendiri mas, saya mencari yang barangnya tidak berat, kalaupun berat saya bilang tidak kuat. Ibarat motor
kita sebagi remnya mas”. Selain itu beliau narik becak juga diniati untuk
berolahraga sambil menjemput rezeki yang Allah tebar dimana-mana “saya ini mas,
kalo keluar cuma bawa sepeda paling-paling ya cuma ngluyur, dari pada ngluyur
makanya saya bawa becak saja. Itung-itung buat olahraga sekalian menjemput
rezeki dari Allah mas.
Mbah
Juki juga menceritakan pengalaman di lingkungan rumahnya di Jalan Wilis, bahwa dulu
yang bernama Juki itu ada banyak kira-kira ada tiga orang yang mempunyai nama
sama. Pernah sekali waktu ada orang yang mencari nama Juki di jalan Wilis, itu
komplain terkait sepeda yang di reparasikan atas nama Juki. Kemudian nama yang di tuju adalah Juki tukang
becak ini, padahal mbah Juki tidak berprofesi atau membuka bengkel reparasi
sepeda. “karna namanya Juki ini banyak di jl. Wilis, saya pernah mas dituduh ngapusi
orang mas. Permasalahannya benerin sepedah, padahal saya tidak buka bengkel
sepeda.” Akhirnya mbah Juki harus
menerima dugaan tersebut dan bermalam di Polres Ponorogo dan alhamdulillah
keesokan harinya dugaan itu dicabut oleh pelapor dan meminta maaf kepada mbah
Juki.
-Jurnalistik Online-

Well Done
BalasHapus